Latar Belakang Penciptaan Bedhaya Santi Mulya

Bedhaya Tunggal Jiwa
Bedhaya Santi Mulya adalah bentuk perkembangan dari tari Bedhaya Tunggal Jiwa yang dinyatakan sebagai hasil cipta karya manusia. Awal diciptakannya Bedhaya Santi Mulya bukanlah sebuah gagasan baru untuk mendapatkan warna baru kedalam upacara ritual Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Tarian tersebut muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya Tunggal Jiwa.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hadir dalam Grebeg Besar dan sesuai dengan tujuan penyusunan tari ini untuk memberikan warna baru dalam Grebeg Besar Demak. Gerak dan karakter yang dibawakan oleh penari adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Disertai dengan motif gerak peralihan srisig, kengser, sindhet, ukel karno dan lain sebagainya. Rias wajah yang digunakan yaitu rias cantik dengan kostum dodot alit. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa dalam penyajiannya tetap menggunakan tasbih sebagai properti disamping sebagai simbol alat berdzikir bisa juga sebagai alat penangkal bala atau godaan setan. (wawancara, Oktober 2006).
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa yang tercermin pada nama tarinya “ Tunggal Jiwa “ mengandung makna bersatunya antara pejabat dengan rakyatnya, atau manunggaling kawula-Gusti, antara hamba dengan Tuhannya (Anik Dwi, wawancara 12 Oktober 2006). Pada umumnya nama – nama tari Bedhaya mengikuti nama gendhing utama / pokok. Dalam tari Bedhaya Ketawang menggunakan gendhing Ketawang, Bedhaya Kaduk Manis menggunakan gendhing Kaduk Manis dan lain sebagainya. Spesifikasi yang terdapat pada gendhing tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini yaitu adanya gendhing Ilir – Ilir sebagai gendhing tarinya. Ilir- ilir adalah berupa tembang yang diciptakan sunan Kalijaga yang mengandung makna seorang penggembala dalam melaksanakan dakwah atau syiar agama Islam di pulau Jawa.

Bentuk Dan Struktur Bedhaya Santi Mulya
Dalam Khasanah Tari Tradisi Gaya Surakarta

Latar Belakang

Kata Santi Mulya berasal dari Bahasa Jawa yang artinya Santi yaitu pandonga, sedangkan Mulya artinya kamulyan. Santi Mulya digunakan untuk sebuah nama tarian bedhaya di Demak menjadi Bedhaya Santi Mulya. Sesuai dengan nama tersebut diatas bahwa tari Bedhaya Santi Mulya yaitu tari kelompok wanita yang bermakna untuk memohon kemakmuran. Tari bedhaya Santi Mulyo merupakan salah satu tari tradisi masyarakat Demak yang diciptakan sekitar bulan Agustus tahun 2006 oleh Sindang Sriyati, Spd dan dibantu oleh Kuntari dan Gunawan dalam penggarapannya. Berpijak dari gerak tradisi gaya Surakarta, sampai saat ini Bedhaya Santi Mulya bisa dikatakan sebagai garapan baru sebab masih dalam separuh perjalanan proses.
Tari Bedhaya Santi Mulya merupakan perkembangan dari tari Bedhaya Tunggal Jiwa sebagai salah satu tari pendukung dalam kegiatan tradisi ritual Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Berkaitan dengan tari Bedhaya pada umumnya, pada dasarnya Bedhaya Tunggal Jiwa tidak mengandung unsur _acral dan disakralkan. Artinya bahwa tari tersebut berfungsi sebagai hiburan dan asset wisata dalam penyajiannya tanpa ada persiapan khusus yang berhubungan dengan hal – hal supranatural semacam sesaji, puasa dan sebagainya. Disamping itu, beberapa komponen sewaktu – waktu bisa mengalami perubahan baik itu dari segi gerak, iringan dan kostum. Hal yang sama juga pada Bedhaya Santi Mulyo sebagai bentuk perubahan total bedhaya Tunggal Jiwa.
Makna yang dapat diperoleh dari bedhaya Santi Mulyo menurut pencipta yaitu.
“Minangka pratelan pamintaning titah konjuk Gusti kang akarya jagat, mugikanthi gumelaring budaya beksan Bedhaya Santi Mulya, Gusti ingkang murbeng dumadi maringana kamulyan dumateng Songsong Agung, paran para, nayaka praja, dalasan para kawula tlatah kabupaten Demak Bintoro. Kaparingana mangaya bagya mulya gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem tebih saking salwiring sambekala, artinya, Untuk mewujudkan permohonan manusia (sebagai ciptaan) kepada Tuhan yang telah menciptakan alam semesta, semoga dengan ini penyajian bedhaya Santi Mulya, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta memberi kemakmuran kepada pemerintahan dari pimpinan sampai bawahan hingga rakyat di wilayah Kabupaten Demak Bintoro. Mendapat dan menemukan kebahagiaan, kemakmuran dan kecukupan dalam ketentraman jauh dari segala marabahaya. “ (Wawancara, November 2006)

Kabupaten Demak yang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu kota yang terkenal dengan kesenian Islam. Beberapa kesenian yang tumbuh disebabkan adanya peristiwa – peristiwa sejarah para kaum ulama dalam menyebarkan agama Islam di wilayah kota Demak pada saat itu. Dari situ maka muncullah berbagai macam bentuk kesenian untuk menjunjung tinggi nilai keIslaman. Beberapa kesenian yang pernah hidup dan berkembang di Kabupaten Demak di antaranya Jipin, Angguk, Kimpleng, Dhug-ger, Nok-nik, Barongan, Kuda Kepang, Jidor (terbangan), Kosidah, Orkes, serta Bedhaya Tunggal Jiwa yang ditampilkan pada upacara Tradisional Grebeg Besar. Tidak semua kesenian di Kabupaten Demak dapat berkembang dengan baik, oleh karena hidup dan berkembangnya suatu kesenian tergantung dari potensi kesenian itu sendiri dan para masyarakat pendukungnya.

by G. Lorna Cinantya

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s