Bedhaya Santi Mulyo

( Dalam perkembangan bentuk pada tari Bedhaya Tunggal Jiwa )

Latar Belakang
Kabupaten Demak merupakan daerah sentral penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Daerah ini dikenal sebagai kota Wali dan pusat untuk menimba ilmu agama, juga tempat ziarah dan daerah kunjungan wisata, khususnya hari – hari besar agama Islam. Seperti diungkapkan oleh Wahyudi, dkk, bahwa kerajaan di Jawa yang pertama menganut ajaran Islam adalah kerajaan Demak.
Masuknya agama Islam ke Indonesia pada mulanya dibawa oleh para pedagang Gujarat yang singgah di pantai – pantai pulau Jawa, yang dahulu masih kerajaannya menganut ajaran Hindu. Dengan masuknya ajaran agama Islam di pulau Jawa lama – kelamaan kerajaan – kerajaan Hindu mengalami kemunduran. Kerajaan di Jawa yang pertama menganut ajaran Islam adalah kerajaan Demak, dengan rajanya Raden Patah (1992/1993: 26)

Disamping sebagai daerah kunjungan wisata, kota Demak memiliki jenis kesenian tradisional seperti tari Jipin, Kosidah, Terbangan, Shelawatan serta adat istiadat yang berunsurkan tata cara keIslaman, seperti Khoul, Tahlilan, Syawalan, dan acara lainnya.
Selain semua tersebut diatas, kabupaten Demak mempunyai satu kegiatan yang diadakan setiap tahun sekali tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijah ( Jawa : Besar ). Kegiatan tersebut adalah “ tradisi Grebeg Besar “ yaitu upacara penjamasan “ pusaka Sunan Kalijaga “ yang berupa Kotang Antakusuma dan keris Kyai Cubruk. Dilakukan setelah selesai sholat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban di pendopo kabupaten Demak. Diawali dengan laporan Lurah Tamtama kepada Bupati Demak tentang kesiapan prajurit Patangpuluhan untuk mengawal minyak jamas.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah salah satu tarian yang turut memeriahkan acara grebeg besar. Disajikan sebelum acara penjamasan dan sesaat setelah laporan Lurah Tamtama kepada Bupati. Jumlah penari sembilan orang wanita, dihubungkan dengan simbol jumlah sembilan wali di Jawa, selain itu juga berkaitan dengan makrokosmos dan mikrokosmos ( alam raya dan isinya ). Tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini dipentaskan dalam waktu kurang lebih 15-20 menit.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hanya berperan untuk memberikan warna baru dan sebagai aset pariwisata. Sehingga fungsi dari Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah sebagai upaya pengembangan yang diharapkan dapat menopang kebudayaan tradisonal (Anik Dwi, 13 Oktober 2006). Sedikit penjelasan tersebut diatas dapat kita ketahui bawa tari Bedhaya Tunggal Jiwa mengalami proses yang sama, yaitu adanya perkembangan – perkembangan dalam setiap kali pementasan. Dari perkembangan tersebut mengakibatkan adanya perubahan yang mempunyai pengertian menuju ke arah kemajuan ataupun kualitas dari hasil kreatifitas seni. Perkembangan yang ada ini tidak hanya pada perkembangan struktur gerak namun lebih pada ide pokok pemikiran yang pada akhirnya akan dapat membawa nama baik maupun identitas dari masyarakat Demak. Melalui perkembangan ini dimunculkan nama, bentuk, warna kostum dan pola lantai maupun hitungan alur gerak. Sehingga tersusunlah nama tari yang dulunya dari Bedhaya Tunggal Jiwa menjadi Bedhaya Santi Mulyo. Dimana tarian tersebut sama sekali tidak terkait dengan proses ritual yang tradisi namun lebih mengacu pada nilai – nilai yang terkandung dalam proses ritualitas masyarakat Demak khususnya acara Grebeg Besar di Demak.
Dari beberapa aspek tersebut terdapat suatu fenomena yang menarik untuk mengungkap proses kreatif yang mempengaruhi munculnya penciptaan Bedhaya Tunggal Jiwa.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: