TARI SRIMPI

Srimpi merupakan salah satu jenis tari ritual putri yang dipergelarkan di dalam keraton ditarikan oleh empat orang penari. Menurut Bapak K.R.T. Hardjonagoro, seorang abdi dalem keraton Surakarta, juga pendiri Museum Keraton dan Kepala Museum Radya Pustaka sejak zaman Paku Buwana XII tahun 1963, tari srimpi dilakukan oleh golongan kenya yang tinggal di keputren keraton Surakarta dan Jogjakarta. Jenis tari lain yang mirip atau sejenis tari srimpi adalah tari bedhaya, tari ini dilakukan oleh golongan bedaya yang juga sebagai penghuni keputren keraton.
Ada perbedaan yang disebut golongan bedaya dan golongan kenya. Golongan kenya adalah golongan yang menurut tingkatannya di bawah golongan bedaya, atau bisa diartikan lain golongan kenya adalah putri-putri yang magang (calon) sebagai golongan bedaya.
Sedangkan para kenya dan bedaya yang tinggal di keputren ini selain bertugas menari juga mempunyai tugas menyiapkan sesaji, caos dahar pusaka-pusaka keraton dan juga menemani tidur raja bagi mereka yang ditunjuk. Para bedaya dan kenya ini berstatus pegawai keraton yang disebut abdi dalem bedaya srimpi.
Para bedaya dan kenya di keputren bagi raja merupakan pelengkap dalam kehidupan raja yang mana di dalam kehidupan merupakan lambang kesuburan. Di dalam kesuburan ini diperlukan adanya unsur pria dan wanita, yang mana disini raja sebagai unsur pria, sedang bedaya dan kenya sebagai unsur wanita.
Disebut di atas bahwa bedaya dan kenya sebagai pelengkap kehidupan raja, sehingga seorang Adipati seperti halnya Mangkunegara dan Paku Alam tidak mempunyai bedaya dan kenya. Apabila di situ mempunyai tari srimpi atau bedaya tentu merupakan pemberian dari raja, seperti contoh tari srimpi Sangupati merupakan hadiah Paku Buwana X kepada putrinya yang menikah dengan Sri Paku Alam VII.

Menurut Bapak K.R.T. Hardjonagoro, keraton Surakarta dan Jogjakarta tersebut dibangun dan diatur menurut tata cara kadewatan Hindu, seperti contoh alun-alun ditanami dengan pohon ringin sungsang, pintu gerbang menghadap ke utara, pendapa menghadap ke timur. Begitu juga raja dianggap sebagai titisan bethara guru. Sedang dalam tatanan kadewatan dewa-dewa tersebut mempunyai syakti atau pancaran kekuatan seorang dewa seperti contoh; Dewa Wisnu mempunyai syakti dewi Tara, Dewa Brahma mempunyai syakti dewi Laksmi, Dewa Syiwa mempunyai syakti dewi Pakarti. Karena raja dianggap titisan dewa, raja-raja di Surakarta dan Jogjakarta mempunyai syakti dewi Sri dan Kanjeng Ratu Kidul.
Tata cara kadewatan dimana para para dewa selalu mempunyai syakti, begitu juga raja sebagai titisan dewa, mempunyai syakti dan pelengkap untuk kehidupan raja memiliki tari srimpi dan tari bedaya. Hal ini ada kemiripan seperti apa yang kami ketahui di pusat Baliage di Bali.
Di desa Tenganan, kabupaten Amlapura, Bali kami pernah mengadakan wawancara dengan seorang tokoh seniman di pusat Baliage bernama Bapak Nyoman Gunawan, di pusat Baliage desa Tenganan masih ada tari yang berfungsi untuk upacara dewa. Dari hasil wawancara dan pengamatan lewat foto-foto tari persembahan yang disebut tari Rejang dewa itu banyak kemiripan dengan tari bedaya srimpi. Diantaranya dapat kami lihat dari busana yang digunakan, menggunakan sejenis dodot lengkap dengan ilat-ilatan sebagai penutup dada. Juga para penari terdiri dari gadis-gadis yang belum menikah, juga tata cara lain seperti puasa dan disengker (tidak diperbolehkan keluar) sebelum mereka menari.
Dewi Sri sebagai syakti raja merupakan dewi kesuburan, dimana di dalam kesuburan di atas diperlukan unsur pria dan wanita. Bedaya dan kenya sebagai unsur wanita bagi seorang raja dianggap sebagai syakti bagi mereka yang dipilih. Sebagai contoh Kanjeng Raden Ayu Adipati Sedah Mirah sebagai pimpinan keputren keraton Surakarta adalah ibunda Paku Buwana X, beliau dari golongan bedaya dan sebagai penari bedaya, juga ibunda dari Gusti Cokrokusuma (putra Paku Buwana X) adalah seorang penari srimpi atau dari golongan kenya.
Para penari srimpi dan bedaya mulai dibina di keraton sejak usia + 12 tahun. Apabila mereka terpilih sebagai syakti raja mereka bukan lagi sebagai abdi dalem, melainkan sebagai priyatun dalem. Selain para kenya yang bertugas sebagai penari srimpi, putri dan cucu raja juga sebagai penari srimpi yang mana menari hanya merupakan pelengkap bagi pendidikan putri dan cucu raja.

Fungsi dan Perkembangan Tari Srimpi
Tari Srimpi yang dipergelarkan di dalam keraton merupakan tari upacara raja. Tari jenis ini dipergelarkan untuk upacara kerajaan seperti penobatan putra mahkota, tumbuk yuswa dan juga untuk menjamu tamu-tamu raja.
Pada waktu pemerintahan Paku Buwana X, kalau baginda pergi ke gubernuran, dibawa serta tari srimpi dan juga tari bedaya. Para penari diusung dengan joli yang diangkat oleh 16 orang, sedang raja dengan naik kereta.
Sajian tari Srimpi memakan waktu sekitar satu jam. Pada perkembangannya, sekitar tahun 1970 Pusat Kebudayaan Jawa Tengah di Surakarta, memprakarsai latihan tari srimpi dan bedaya untuk umum dengan pelatih penari srimpi dan bedaya dari keraton Surakarta.
Perkembangan selanjutnya tari srimpi menjadi materi pelajaran di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Surakarta dan juga di Akademi Seni Karawitan Indonesia di Surakarta.
Perkembangan garap dengan cara pemadatan telah dilakukan di di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, sehingga lama pergelaran menjadi sekitar 15 menit.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: