Mitologi dalam Ruwatan

A. Arti Ruwatan

Kata ruwatan atau “Ngruwat” berasal dari kata “luwar” atau lepas, dilepaskan atau dibebaskan. Jadi meruwat berarti melepaskan, membebaskan atau menolak dan menghindarkan malapetaka yang diramalkan akan menimpa dirinya.

Tentu saja tak seorangpun manusia mengharapkan sesuatu malapetaka menimpa dirinya. Untuk itu berbagai daya upaya dilakukan dan ditempuhnya agar hidupnya tenteram, bahagia serta terhindar dari segala mara bahaya dan kesulitan.

Bagi yang percaya kadang kala orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya banyak untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan jiwanya. Bahkan ada yang berpedoman: “Uang dapat dicari, tetapi keselamatan lahir dan ketentraman batin lebih penting arinya.” Karena itulah banyak orang yang tidak mau meningalkan adat istiadat dan tradisi (meruwat) yang telah dipegang teguh dan dihayati sejak zaman nenek moyang kita.

Menurut Kepustakan “Pakem Pengruwatan Murwa Kala), bahwa orang yang harus diruwat itu disebut “Sukerta”. Ada 60 macam penyebab malapetaka dari sukerta yang dapat dihindari dengan jalan diruwat. Ke 60 jenis orang yang harus diruwat atau sukerta tersebut adalah:

  1. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “dandang” (tempat menanak nasi).
  2. Memecahkan “pipisan” dan mematahkan “gandik” (alat untuk landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramuan-ramuan obat tradisional).
  3. “uger-uger lawang”, yaitu dua orang anak, yang keduanya laki-laki dengan catatan tidak ada anak yang meninggal.
  4. Anak bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (“plasenta”).
  5. Anak kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putrid atau kembar “dampit”. Yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)
  6. “kembang sepasang”, atau sepasang bunga, taitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.
  7. “kedhana-kedhini”, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
  8. “ontang-anting”, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.
  9. “sendang kapit pancuran”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu laki-laki, sedang anak yang ke 2 adalah perempuan.
  10. “pancuran kapit sendang”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu perempuan, sedang anak yang ke 2 adalah laki-laki.
  11. “saramba”, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.
  12. “srimpi”, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.
  13. “mancalaputra” atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.
  14. “mancalputri”, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.
  15. “pipilan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang perempuan dan seorang laki-laki.
  16. “padangan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan seorang perempuan.
  17. “julung pujud”, yaitu anak yang lahir pada saat matahari terbenam.
  18. “julung sungsang”, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.
  19. “julung wangi”, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
  20. “tiba ungker” bayi yang lahir, kemudian meninggal.
  21. “jempina”, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
  22. “tiba sampir”, anak yang lahir berkalung usus.
  23. ‘margana’, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.
  24. “wahana”, yaitu anak yang lahir dalam halaman atau pekarangan rumah.
  25. “siwah/salewah”, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
  26. “bule”, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”.
  27. “kresna”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.
  28. ‘walika”, yaitu anak yang lahir berujud bajang/kerdil.
  29. “wungkuk”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.
  30. “dengkak”, yaitu anak yang lahir punggungnya menonjol seperti punggung onta.
  31. “wujil”, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol/pendek.
  32. “lawang menga”, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ‘candikala’ yaitu ketika langit merah kekuning-kuningan.
  33. “made”, yaitu anak yang lahir tanpa alas/tikar.
  34. orang yang bertempat tinggal dalam rumah yang tidak ada “tutup keyong”nya.
  35. orang yang tidur diatas kasur tanpa sprei (penutup kasur).
  36. orang yang membuat pepajangan / dekorasi tanpa samir/ daun pisang.
  37. orang yang memiliki lumbung / gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.
  38. orang yang menempatkan barang disuatu tempat (“dandang misalnya”) tanpa ada tutupnya.
  39. orang yang membuang kutu masih hidup.
  40. orang berdiri ditengah-tengah piuntu.
  41. orang yang duduk didepan(ambang) pintu.
  42. orang selalu bertopang dagu.
  43. orang yang gemar membakar kulit bawang.
  44. orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya panici dengan panic).
  45. orang yang senang membakar rambut.
  46. orang yang senang membakar tikar dari bamboo (“galar”).
  47. orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.
  48. orang yang senang membakar tulang.
  49. orang yang senang menyapu sampah  tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.
  50. orang yang suka membuang garam.
  51. orang yang senang membuang sampah / kotoran di bawah (dikolong) tempat tidur.
  52. orang yang membuang sampah lewat jendela.
  53. orang tidur pada waktu matahari terbit.
  54. orang tidur pada waktu matahari terbenam.
  55. orang yang memenjat pohon pada waktu siang bolong (jam 12 siang).
  56. orang yang tidur diwaktu siang hari (jam 12 siang)
  57. orang yang senang manenek nasi, kemudian ditinggal pergi ke tetangga.
  58. orang yang suka mengaku hak orang lain.
  59. orang yang sering meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat menumbuk padi). Dan
  60. orang yang lengah, sehingga mereobohkan jemuran “wijen” biji-bijian.

Demikian 60 jenis “sukerta”, yaitu jenis-jenis manusia yang dijanjikan oleh sang Hyang Betara Guru kepada Betara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam criteria tersebut diatas menghindarkan diri dari malpetaka (menjadi makanan Batara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan / ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruiwatan yang lain misalnya: Baratayuda, Sudamal, Kunjarakarna, dan lain sebagainya.

Lepas dari percaya atau tidak percaya, tetapi tampak jelas bahwa salah satu fungsi pertunjukan wayang adalah suatu kegiatan yang ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Karena yang memegang pernan dalam lakon-lakon Murwakala atau ruwatan ini adalah Kandhabuwana (Wisnu) dan Siwa, maka tentu dengan sendirinya wayangan dengan lakon Murwakala itu semula tentu ada hubungan dan kaitanya dengan agama aliran Siwa dan atau Wisnu, Budha dan sebagainya.

Adapun sajen-sajen yang biasanya disertakan dalam upacara ruwatan yaitu menurut Pakem Murwakala ada 36 jenis perlengkapan sajen antara lain :

  1. Tuwuhan, yaitu pisang, cengkir atau kelapa muda dan pohon tebu masing-masing dua pasang yang diletakkan dikanan-kiri kelir atau layar.
  2. Padi sagedheng = 4 ikat padi sebelah menyebelah.
  3. 1 buah kelapa yang sedang tumbuh / bertunas sebelah menyebelah.
  4. 1 batang tebu.sebelah menyebelah.
  5. 2 ekor ayam (betina dan jantan) yang diikat pada “tuwuhan” dikanan-kiri kelir (lihat no.1).
  6. 4 batang kayu “Walikulun” yang masing-masing panjangnya kurang lebih 1 hasta.
  7. ungker siji = 1penggulung benang.
  8. 4 buah ketupat pangluwar ( = pembebas atau penolak)
  9. 1 lembar tikar (yang baru)
  10. 1 bantal (yang baru)
  11. sisir rambut
  12. suri (sisir khusus untuk mencari kutu rambut)
  13. cermin
  14. paying
  15. 15. Minyak wangi sundul langit
  16. 16. 7 macam kain batik (“jarit”) yaitu: Poleng bang sadodot; tuwuh watu; dringin; songer; liwatan; gadhung melathi; pandan binetot.
  17. daun lontar satu gengganm
  18. 2 pisau dari baja.
  19. dua butir telur ayam
  20. “gedhang ayu” (pisang yang sudah masak, yang biasanya pisang pulut atau pisang raja); suruh ayu saadune (sirih dengan kelengkapanya); krambil grondil (kelapa tan sabut (“sepet”); gula setangkep (gula merah /jawa satu pasang); beras sapitrah (beras sebanyak untuk fitrah); ayam panggang; “tindhihe duwit salawe uwang” (“tindih” –uang yang diletakkan diatas “sajen”/ sajian sebanyak 25 wang)
  21. air tujuh macam: air bunga setaman yang ditempatkan dalam jambangan baru dan dimasuki uang sebanyak 2 wang.
  22. 22. seikat benang lawe
  23. 23. minyak kepala untuk blencong
  24. nasi wuduk (gurih), dan daging ayam di “lembarang” (dimasak dengan santan dan bumbu)
  25. satu guci badheg ( = arak kiang aren atau minuman keras)
  26. satu guci tetes (kiloang tebu)
  27. tujuh macam nasi tumpeng, yaitu: magana, rajeg dom, pucuk ndok, pucuk lombok abang/cabe merah, tutul, sembur, belang.
  28. tujuh macam jadah. Misalnya jenang dodol, wajik,dan lain sebagainya.
  29. jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam)
  30. ketupat lepet
  31. legondoh
  32. pula gimbal, pula gringsing
  33. jenang abang, jenang bawok, jenang lemu (bermacam-macam bubur)
  34. rujak legi, rujak crobo
  35. gecko mentah, gecko bakal, gecko lele urip (sesajian/ “sesajen” berupa cacahan daging / ikan mentah.)
  36. dandang sasaput-prantine wong olah-olah (dandang atau alat untuk menanak nasi beserta alat-alat memasak)
  37. kendhi isi banyu kebak (kendi yang diisi air sampai penuh)
  38. diyan anyar kang murub (pelita baru yang dinyalakan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: