Bedhaya Santi Mulyo

November 15, 2009

( Dalam perkembangan bentuk pada tari Bedhaya Tunggal Jiwa )

Latar Belakang
Kabupaten Demak merupakan daerah sentral penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Daerah ini dikenal sebagai kota Wali dan pusat untuk menimba ilmu agama, juga tempat ziarah dan daerah kunjungan wisata, khususnya hari – hari besar agama Islam. Seperti diungkapkan oleh Wahyudi, dkk, bahwa kerajaan di Jawa yang pertama menganut ajaran Islam adalah kerajaan Demak.
Masuknya agama Islam ke Indonesia pada mulanya dibawa oleh para pedagang Gujarat yang singgah di pantai – pantai pulau Jawa, yang dahulu masih kerajaannya menganut ajaran Hindu. Dengan masuknya ajaran agama Islam di pulau Jawa lama – kelamaan kerajaan – kerajaan Hindu mengalami kemunduran. Kerajaan di Jawa yang pertama menganut ajaran Islam adalah kerajaan Demak, dengan rajanya Raden Patah (1992/1993: 26)

Latar Belakang Penciptaan Bedhaya Santi Mulya

November 15, 2009

Bedhaya Tunggal Jiwa
Bedhaya Santi Mulya adalah bentuk perkembangan dari tari Bedhaya Tunggal Jiwa yang dinyatakan sebagai hasil cipta karya manusia. Awal diciptakannya Bedhaya Santi Mulya bukanlah sebuah gagasan baru untuk mendapatkan warna baru kedalam upacara ritual Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Tarian tersebut muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya Tunggal Jiwa.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hadir dalam Grebeg Besar dan sesuai dengan tujuan penyusunan tari ini untuk memberikan warna baru dalam Grebeg Besar Demak. Gerak dan karakter yang dibawakan oleh penari adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Disertai dengan motif gerak peralihan srisig, kengser, sindhet, ukel karno dan lain sebagainya. Rias wajah yang digunakan yaitu rias cantik dengan kostum dodot alit. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa dalam penyajiannya tetap menggunakan tasbih sebagai properti disamping sebagai simbol alat berdzikir bisa juga sebagai alat penangkal bala atau godaan setan. (wawancara, Oktober 2006).
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa yang tercermin pada nama tarinya “ Tunggal Jiwa “ mengandung makna bersatunya antara pejabat dengan rakyatnya, atau manunggaling kawula-Gusti, antara hamba dengan Tuhannya (Anik Dwi, wawancara 12 Oktober 2006). Pada umumnya nama – nama tari Bedhaya mengikuti nama gendhing utama / pokok. Dalam tari Bedhaya Ketawang menggunakan gendhing Ketawang, Bedhaya Kaduk Manis menggunakan gendhing Kaduk Manis dan lain sebagainya. Spesifikasi yang terdapat pada gendhing tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini yaitu adanya gendhing Ilir – Ilir sebagai gendhing tarinya. Ilir- ilir adalah berupa tembang yang diciptakan sunan Kalijaga yang mengandung makna seorang penggembala dalam melaksanakan dakwah atau syiar agama Islam di pulau Jawa.

Bentuk Dan Struktur Bedhaya Santi Mulya
Dalam Khasanah Tari Tradisi Gaya Surakarta

Latar Belakang

Kata Santi Mulya berasal dari Bahasa Jawa yang artinya Santi yaitu pandonga, sedangkan Mulya artinya kamulyan. Santi Mulya digunakan untuk sebuah nama tarian bedhaya di Demak menjadi Bedhaya Santi Mulya. Sesuai dengan nama tersebut diatas bahwa tari Bedhaya Santi Mulya yaitu tari kelompok wanita yang bermakna untuk memohon kemakmuran. Tari bedhaya Santi Mulyo merupakan salah satu tari tradisi masyarakat Demak yang diciptakan sekitar bulan Agustus tahun 2006 oleh Sindang Sriyati, Spd dan dibantu oleh Kuntari dan Gunawan dalam penggarapannya. Berpijak dari gerak tradisi gaya Surakarta, sampai saat ini Bedhaya Santi Mulya bisa dikatakan sebagai garapan baru sebab masih dalam separuh perjalanan proses.
Tari Bedhaya Santi Mulya merupakan perkembangan dari tari Bedhaya Tunggal Jiwa sebagai salah satu tari pendukung dalam kegiatan tradisi ritual Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Berkaitan dengan tari Bedhaya pada umumnya, pada dasarnya Bedhaya Tunggal Jiwa tidak mengandung unsur _acral dan disakralkan. Artinya bahwa tari tersebut berfungsi sebagai hiburan dan asset wisata dalam penyajiannya tanpa ada persiapan khusus yang berhubungan dengan hal – hal supranatural semacam sesaji, puasa dan sebagainya. Disamping itu, beberapa komponen sewaktu – waktu bisa mengalami perubahan baik itu dari segi gerak, iringan dan kostum. Hal yang sama juga pada Bedhaya Santi Mulyo sebagai bentuk perubahan total bedhaya Tunggal Jiwa.
Makna yang dapat diperoleh dari bedhaya Santi Mulyo menurut pencipta yaitu.
“Minangka pratelan pamintaning titah konjuk Gusti kang akarya jagat, mugikanthi gumelaring budaya beksan Bedhaya Santi Mulya, Gusti ingkang murbeng dumadi maringana kamulyan dumateng Songsong Agung, paran para, nayaka praja, dalasan para kawula tlatah kabupaten Demak Bintoro. Kaparingana mangaya bagya mulya gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem tebih saking salwiring sambekala, artinya, Untuk mewujudkan permohonan manusia (sebagai ciptaan) kepada Tuhan yang telah menciptakan alam semesta, semoga dengan ini penyajian bedhaya Santi Mulya, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta memberi kemakmuran kepada pemerintahan dari pimpinan sampai bawahan hingga rakyat di wilayah Kabupaten Demak Bintoro. Mendapat dan menemukan kebahagiaan, kemakmuran dan kecukupan dalam ketentraman jauh dari segala marabahaya. “ (Wawancara, November 2006)

Kabupaten Demak yang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu kota yang terkenal dengan kesenian Islam. Beberapa kesenian yang tumbuh disebabkan adanya peristiwa – peristiwa sejarah para kaum ulama dalam menyebarkan agama Islam di wilayah kota Demak pada saat itu. Dari situ maka muncullah berbagai macam bentuk kesenian untuk menjunjung tinggi nilai keIslaman. Beberapa kesenian yang pernah hidup dan berkembang di Kabupaten Demak di antaranya Jipin, Angguk, Kimpleng, Dhug-ger, Nok-nik, Barongan, Kuda Kepang, Jidor (terbangan), Kosidah, Orkes, serta Bedhaya Tunggal Jiwa yang ditampilkan pada upacara Tradisional Grebeg Besar. Tidak semua kesenian di Kabupaten Demak dapat berkembang dengan baik, oleh karena hidup dan berkembangnya suatu kesenian tergantung dari potensi kesenian itu sendiri dan para masyarakat pendukungnya.

by G. Lorna Cinantya

TARI SRIMPI

November 14, 2009

Baca entri selengkapnya »

Mitologi dalam Ruwatan

November 13, 2009

A. Arti Ruwatan

Kata ruwatan atau “Ngruwat” berasal dari kata “luwar” atau lepas, dilepaskan atau dibebaskan. Jadi meruwat berarti melepaskan, membebaskan atau menolak dan menghindarkan malapetaka yang diramalkan akan menimpa dirinya.

Tentu saja tak seorangpun manusia mengharapkan sesuatu malapetaka menimpa dirinya. Untuk itu berbagai daya upaya dilakukan dan ditempuhnya agar hidupnya tenteram, bahagia serta terhindar dari segala mara bahaya dan kesulitan.

Bagi yang percaya kadang kala orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya banyak untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan jiwanya. Bahkan ada yang berpedoman: “Uang dapat dicari, tetapi keselamatan lahir dan ketentraman batin lebih penting arinya.” Karena itulah banyak orang yang tidak mau meningalkan adat istiadat dan tradisi (meruwat) yang telah dipegang teguh dan dihayati sejak zaman nenek moyang kita.

Menurut Kepustakan “Pakem Pengruwatan Murwa Kala), bahwa orang yang harus diruwat itu disebut “Sukerta”. Ada 60 macam penyebab malapetaka dari sukerta yang dapat dihindari dengan jalan diruwat. Ke 60 jenis orang yang harus diruwat atau sukerta tersebut adalah:

  1. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “dandang” (tempat menanak nasi).
  2. Memecahkan “pipisan” dan mematahkan “gandik” (alat untuk landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramuan-ramuan obat tradisional).
  3. “uger-uger lawang”, yaitu dua orang anak, yang keduanya laki-laki dengan catatan tidak ada anak yang meninggal.
  4. Anak bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (“plasenta”).
  5. Anak kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putrid atau kembar “dampit”. Yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)
  6. “kembang sepasang”, atau sepasang bunga, taitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.
  7. “kedhana-kedhini”, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
  8. “ontang-anting”, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.
  9. “sendang kapit pancuran”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu laki-laki, sedang anak yang ke 2 adalah perempuan.
  10. “pancuran kapit sendang”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu perempuan, sedang anak yang ke 2 adalah laki-laki.
  11. “saramba”, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.
  12. “srimpi”, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.
  13. “mancalaputra” atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.
  14. “mancalputri”, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.
  15. “pipilan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang perempuan dan seorang laki-laki.
  16. “padangan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan seorang perempuan.
  17. “julung pujud”, yaitu anak yang lahir pada saat matahari terbenam.
  18. “julung sungsang”, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.
  19. “julung wangi”, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
  20. “tiba ungker” bayi yang lahir, kemudian meninggal.
  21. “jempina”, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
  22. “tiba sampir”, anak yang lahir berkalung usus.
  23. ‘margana’, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.
  24. “wahana”, yaitu anak yang lahir dalam halaman atau pekarangan rumah.
  25. “siwah/salewah”, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
  26. “bule”, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”.
  27. “kresna”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.
  28. ‘walika”, yaitu anak yang lahir berujud bajang/kerdil.
  29. “wungkuk”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.
  30. “dengkak”, yaitu anak yang lahir punggungnya menonjol seperti punggung onta.
  31. “wujil”, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol/pendek.
  32. “lawang menga”, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ‘candikala’ yaitu ketika langit merah kekuning-kuningan.
  33. “made”, yaitu anak yang lahir tanpa alas/tikar.
  34. orang yang bertempat tinggal dalam rumah yang tidak ada “tutup keyong”nya.
  35. orang yang tidur diatas kasur tanpa sprei (penutup kasur).
  36. orang yang membuat pepajangan / dekorasi tanpa samir/ daun pisang.
  37. orang yang memiliki lumbung / gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.
  38. orang yang menempatkan barang disuatu tempat (“dandang misalnya”) tanpa ada tutupnya.
  39. orang yang membuang kutu masih hidup.
  40. orang berdiri ditengah-tengah piuntu.
  41. orang yang duduk didepan(ambang) pintu.
  42. orang selalu bertopang dagu.
  43. orang yang gemar membakar kulit bawang.
  44. orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya panici dengan panic).
  45. orang yang senang membakar rambut.
  46. orang yang senang membakar tikar dari bamboo (“galar”).
  47. orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.
  48. orang yang senang membakar tulang.
  49. orang yang senang menyapu sampah  tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.
  50. orang yang suka membuang garam.
  51. orang yang senang membuang sampah / kotoran di bawah (dikolong) tempat tidur.
  52. orang yang membuang sampah lewat jendela.
  53. orang tidur pada waktu matahari terbit.
  54. orang tidur pada waktu matahari terbenam.
  55. orang yang memenjat pohon pada waktu siang bolong (jam 12 siang).
  56. orang yang tidur diwaktu siang hari (jam 12 siang)
  57. orang yang senang manenek nasi, kemudian ditinggal pergi ke tetangga.
  58. orang yang suka mengaku hak orang lain.
  59. orang yang sering meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat menumbuk padi). Dan
  60. orang yang lengah, sehingga mereobohkan jemuran “wijen” biji-bijian.

Demikian 60 jenis “sukerta”, yaitu jenis-jenis manusia yang dijanjikan oleh sang Hyang Betara Guru kepada Betara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam criteria tersebut diatas menghindarkan diri dari malpetaka (menjadi makanan Batara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan / ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruiwatan yang lain misalnya: Baratayuda, Sudamal, Kunjarakarna, dan lain sebagainya.

Lepas dari percaya atau tidak percaya, tetapi tampak jelas bahwa salah satu fungsi pertunjukan wayang adalah suatu kegiatan yang ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Karena yang memegang pernan dalam lakon-lakon Murwakala atau ruwatan ini adalah Kandhabuwana (Wisnu) dan Siwa, maka tentu dengan sendirinya wayangan dengan lakon Murwakala itu semula tentu ada hubungan dan kaitanya dengan agama aliran Siwa dan atau Wisnu, Budha dan sebagainya.

Adapun sajen-sajen yang biasanya disertakan dalam upacara ruwatan yaitu menurut Pakem Murwakala ada 36 jenis perlengkapan sajen antara lain :

  1. Tuwuhan, yaitu pisang, cengkir atau kelapa muda dan pohon tebu masing-masing dua pasang yang diletakkan dikanan-kiri kelir atau layar.
  2. Padi sagedheng = 4 ikat padi sebelah menyebelah.
  3. 1 buah kelapa yang sedang tumbuh / bertunas sebelah menyebelah.
  4. 1 batang tebu.sebelah menyebelah.
  5. 2 ekor ayam (betina dan jantan) yang diikat pada “tuwuhan” dikanan-kiri kelir (lihat no.1).
  6. 4 batang kayu “Walikulun” yang masing-masing panjangnya kurang lebih 1 hasta.
  7. ungker siji = 1penggulung benang.
  8. 4 buah ketupat pangluwar ( = pembebas atau penolak)
  9. 1 lembar tikar (yang baru)
  10. 1 bantal (yang baru)
  11. sisir rambut
  12. suri (sisir khusus untuk mencari kutu rambut)
  13. cermin
  14. paying
  15. 15. Minyak wangi sundul langit
  16. 16. 7 macam kain batik (“jarit”) yaitu: Poleng bang sadodot; tuwuh watu; dringin; songer; liwatan; gadhung melathi; pandan binetot.
  17. daun lontar satu gengganm
  18. 2 pisau dari baja.
  19. dua butir telur ayam
  20. “gedhang ayu” (pisang yang sudah masak, yang biasanya pisang pulut atau pisang raja); suruh ayu saadune (sirih dengan kelengkapanya); krambil grondil (kelapa tan sabut (“sepet”); gula setangkep (gula merah /jawa satu pasang); beras sapitrah (beras sebanyak untuk fitrah); ayam panggang; “tindhihe duwit salawe uwang” (“tindih” –uang yang diletakkan diatas “sajen”/ sajian sebanyak 25 wang)
  21. air tujuh macam: air bunga setaman yang ditempatkan dalam jambangan baru dan dimasuki uang sebanyak 2 wang.
  22. 22. seikat benang lawe
  23. 23. minyak kepala untuk blencong
  24. nasi wuduk (gurih), dan daging ayam di “lembarang” (dimasak dengan santan dan bumbu)
  25. satu guci badheg ( = arak kiang aren atau minuman keras)
  26. satu guci tetes (kiloang tebu)
  27. tujuh macam nasi tumpeng, yaitu: magana, rajeg dom, pucuk ndok, pucuk lombok abang/cabe merah, tutul, sembur, belang.
  28. tujuh macam jadah. Misalnya jenang dodol, wajik,dan lain sebagainya.
  29. jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam)
  30. ketupat lepet
  31. legondoh
  32. pula gimbal, pula gringsing
  33. jenang abang, jenang bawok, jenang lemu (bermacam-macam bubur)
  34. rujak legi, rujak crobo
  35. gecko mentah, gecko bakal, gecko lele urip (sesajian/ “sesajen” berupa cacahan daging / ikan mentah.)
  36. dandang sasaput-prantine wong olah-olah (dandang atau alat untuk menanak nasi beserta alat-alat memasak)
  37. kendhi isi banyu kebak (kendi yang diisi air sampai penuh)
  38. diyan anyar kang murub (pelita baru yang dinyalakan)

Mitologi dalam Tradisi Sekaten

November 13, 2009

Timbulnya Tradisi Sekaten

Dalam serat babat menyebutkan bahwa setelah Majapahit mengalam dekadensi,kerajaan tanah jawa dipindah ke Demak. Pada waktu itu orang Jawa masih masih menganut paham Hindhu,kepercayaan Animisme, Dinamisme masih kuat, maka para ulama sepakat akan mengIslamkan masyarakat jawa. Sebelum Islammasuk masyarakat jawa sudah gemar akan gamelan. Gamelan dapat dipakainsebagai pelengkap didalam pertunjukan wayang, pengiring gendhing jawa ( tembang ), oleh para wali lebih lebih Sunan Kalijaga gamelan tersebut dimanfaatkan sebagai alat untuk da’wah. Oleh karena itu Sunan Kali jaga dengan menggunakan gamelan dan dibuyikan dihalaman Masjid Agung Demak dengan maksud agar rakyat datang mendengarkan kemudian menganut Islam.

Adapun orang yang masuk Masjid diwajibkan membaca “ dua syahadat “.dalam bahasa arab “ syahadat ain “  Kemudian orang jawa menamakan sekaten.  Adapun syahadat tersebut adalah :

  • Asshadu alla illaha illalloh : yang artinya tidak ada makhlukyang disermbah didunia ini kecuali hanya ALLAH saja.
  • Wa asshadu anna Muhammadarosullulloh : yang artinya dan saya percaya bahwa Nabi Muhhamad utusan ALLAH.

 

Pengertian Sekaten

Sekaten berhubungan eratdengan proses Islamisasi di Jawa. Masyarakat Jawa gemar aka gamelan maka oleh Sunan Kalijaga Alat itu dipakai untuk menyiarkan agama Islam. Gamelan yang dipakai itu oleh Sunan Kalijaga diberi nama Kyai Sekati. Adapun maksudnya adalah untuk memperlambangkan agama Islam.

Setiap tahun sekali diMasjid Agung yaitu pada bulan Maulud diadakan tablikakbar atas prakarsa Sunan Kalijaga. Tabligh ini untuk memperingatti Maulud Nabi Muhhamad S.a.w. dan pada waktu itu sebagai musyawarah para wali.

Seusai perkembangan jaman sekaten dikemas sedemikian rupa hingga dapat menarik masyarakat. Pada hari Maulud Nabi, gamelan Kyai Sekati ditabuh bertalu talu dengan tidak hentinya.

Jadi disini penulismengartikan pengertian sekaten adalah : Suatu upacara keagamaan, dimana gamelan dibunyikan dihalaman Masjid dengan tujuan agar orang masuk Masjid dengan membaca dua kalimat syahadat.

 

Tujuan Sekaten di Bidang Agama.

Perayaan sekaten bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik para masyarakat. Sekaten dilaksanakanjuga untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.a.w.

Didalam sekaten karena pengunjungya sangat banyak maka diadakan kotbah-kotbah yang bernuansa Islam untuk menggugah keimanan mereka agar menghayati perintah Nabi.

 

Tradisi Sekaten di Surakarta

(1)   Timbulnya perayaan sekaten di Surakarta sebenarnya hanya merupakan kelanjutan daritradisi Demak. Tetapi timbulnya tradisi sekaten di Surakarta sejak PB III. Pada waktu Mataram pecah jadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta maka Gamelan sekaten juga dipecah menjadi dua, sehingga perayaan sekaten pada waktu PB III tidak meriah. Akan tetapi pada waktu PB IV bertahta, perayaan sekaten lebih meriah, karena PB IV memesan satu gamelan lagi yang diberi nama Kyai Guntur Maadu. Perayaan sekaten di Surakarta merupakan perpaduan antara kebidayaan jawa dan Islam, kebudayaan jawa berbentuk Gamelan sedang Islam berbentuk Masjid. Sekaten berlangsung dari tanggal 5 s.d. 12 Maulud.

(2)   Persiapan Upacara Sekaten

Perayaan ini merupakan tradisi Keraton maka kepanitiaan ditangani langsung oleh Keraton. Yang kebagian tugas yaitu  Roh Kepatihan yaitu menyangkut keamanan, ketertiban, dan sebagainya ditangani oleh Roh Kepatihan. Tetapi sekarang bekerjasama dengan Kesra, Pariwisata dan Kantor agama Surakarta, sebab upacara ini tidak hanya adat tetapi sekarang merupakan perpaduan antara adat, agama, dan pesta. Campur tangan Keraton yaitu waktu gamelan diturunkan dari Sitinggil, agama yaitu tempat gamelan diletakkan (Masjid Agung ). Sedangkan pesta yaitu hiburan yang berupa promosi, stand, iklan, permainan yang ada di luar Masjid.

Gamelan Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu diturunkan dari Sitinggil + jam 10.00 pagi, lewat Pagelaran kemudian menuju Alun alun dan belok ke kiri, tepat disebelah selatan waringin kurung menuju Masjid Agung. Gamelan sekaten tersebut terdiri atas :

  1. Bonang besar satu pangkon terdiri dari dua baris
  2. Demung dua pangkon
  3. Gembyangan dua pangkon
  4. Saron penerus dua pangkon
  5. Gong besardua buah
  6. Bedug

 

Pelaksanaan Sekaten di Surakarta

Perayaan ini dilaksanakan pada bulan Maulud tanggal 5 s.d. 12 Rabiul awal dihalaman Masjid Agung Surakarta.

Perayaan bersifat umum dan terbuka, maka banyak pengnjung yang datang baik dari masyarakat Surakarta sendiri maupun dari luar kota,seperti : Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo,dan lainnya.

Sebelum pelaksaan sekaten disiarkan melalui radio baik lewat RRIataupun yang lain.

Perayaan sekaten tidak lepas dari prakarsa Sunan Kalijaga yaitu sebagai sarana da’wah. Sebab dengan gamelan sekaten tersebut, maka bisa berhasildengan gemilang. Dua gamelan yang penulis uraikan diatas, Kyai Guntur Madu memperdengarkan gending-gending”Rambu” dan Kyai Guntur Sari memperdengarkan gending “Rangkung”, jadi gamelan sekaten memperdengarkan gending “ Rambu dan Rangkung “.

Pada upacara pembukaan perayaan sekaten di serambi Masjid Agung dengan acara sebagai berikut :

  1. Pembacaan ayat suci Al Qur’an
  2. Pembukaan oleh ketua panitia
  3. Sambutan dari Bapak Walikota Kota Madya Surakarta
  4. Uraian Sejarah timbulnya sekaten oleh Bapak sesepuh Keraton Surakarta Hadiningrat
  5. Doa penutup.

Demikianlah uraian pelaksanaan upacara sekaten di Keraton Surakarta.

 

Timbulnya Gamelan Sekaten

Karena masyarakat Jawa yang gemar gamelan para Wali dalam menyebarkan agama Islam menggunakan gamelan. Oleh Sunan Kalijaga didengarkan suaragrenang greneng tersebut, maka disuruhlah dua orang ulama untuk mencari jin itu agar menyetujui inisiatif Sunan Kalijaga. Dua Ulama itu bernama Ki Gambuh dan Ki Ganjur. Sejak itu timbul tradisi sekaten sampai sekarang.

Maka menjadi tradisi bahwa gamelan Sekaten yang dibunyikan di Masjid Agung Surakarta yakni :

  • Kyai Guntur Madu dengan gending “ Rambu “
  • Kyai Guntur Sari dengan gending “ Rangkung “

Adapun makna gending “Rambu” dari bahasa Arab “ rathuna “ yang berarti Allah Pangeranku, sedang gending “ Rangkung “ dari bahasa Arab “Loukhim” yang artinya jiwa besar atau agung.

 

Asal Mula Gamelan Sekaten Di Surakarta

Gamelan sekaten Surakarta bukan berasal dari Demak atau Pajang. Hal itu terbukti bahwa:

Setelah Pangeran Hadipati Benawa di Pajang sampai Prabu Hanyakrawati Sedo Krapyak,gamelan sekaten tidak dibunyikan, tetapi masih disimpan di Demak.

Adapun asal mula gamelan sekaten di Surakarta yaitu :

“Sudah penulis uraikan dimuka bahwa sejak Pangeran Hadipati Benawa di Pajangm, hingga Prabu Hanyakrawati Sedo Krapyak gamelan sekaten tidak dibunyikan tetapi masih disimpan di Demak. Setelah kerajaan Mataraam berdiri dengan Rajanya Sultan Agung Hanyakrakusuma, maka dibuatlah Gamelan baru dengan ditandai Condro Sengkolo “Rerengan Nanas Tinoto ing Wadah”. (1566). Pada masa Mataram kerajaan dipecah menjadi dua yakni kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, dan pada waktu itulah gamelan juga dipecah menjadi dua.

Kasultanan Yogyakarta mendapat bagian : Bonang, Demung, Saron, Gong, serta sisanya berada di Kasunanan Surakarta. kemudian setelah PB IV bertahta, sisa gamelan tersebut dilengkapi dan memesan satu gamelan lagi yang baru yang lebih besar dengan Condro Sengkolo”Nogo Rollo Nitih Tunggal”. Gamelan tersebut berangka th.1718 M.

Adapun yang membuat gamelan sekaten diataspesanan PB IV tersebut bernama abdi dalem Empu Ganding Pande Gangsa. Gamelan pesanan PB Ivitu kemudian diberi nama Kyai Guntur Madu yang di tempatkan di bangsal selatan, sedang gamelan Sultan Agung di tempatkan di bangsal utara, dengan nama Kyai Guntur Sari.

Jadi asal mula gamelan sekaten Surakarta yakni separor peninggalan Sultaan Agung dengan nama Kyai Guntur Sari dan gamelaan ciptaan PB IV bernama Kyai Guntur Madu.

 

Peranan Gamelan Sekaten

Gamelan adalah pusaka Keraton kemudian dihubungkan dengan Masjid. Karena Masjid Adalah tempat suci umat Islam. Maka jelas bahwa peranan gamelan dalam sekaten, selain merupakan cirikhas budaya jawa juaga sarana da’wah umat Islam. Dengan kata lain gamelan merupakanbuatan para raja dan menjadi pusaka Keraton, serta di bunyikan di halaman Masjid adalah menjadilambang perpaduan budaya jawa dengan Islam. Dan manunggalnya antara budaya jawa dan Islam itu mengandung arti sebagai sarana mengagungkanNabi Muhammad s.a.w. sebab upacara sekaten itu biasanya bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad, atau orangjawa menyebutnya Muludan.

Mitos dalam sekaten

Dalam upacara sekaten banyak terdapat mitos yang dipercayai oleh masyarakat diantaranya adalah :

1. Gunungan

Gunungan merupakan puncak dari upacara tradisi sekaten. Disini terdapat gunungan yang didalamnya ada berbagai jenis makanan serta sayur mayur atau kebutuhan makan sehari-hari. Masyarakat percaya kalau mengambil  isi gunungan, segala bentuk keinginan dan cita-cita akan tercapai. Dan setidaknya bisa mendatangkan berkah.

2. Janur

Janur disini yang dipercaya dan diperebutkan oleh orang adalah janur yang dipasang pada saat pembukaan Sekaten, yaitu pada saat gamelan sekaten pertama kali ditabuh/ dibunyikan. Dengan memperebutkan janur sekaten bisa mendatangkan rejeki.

3. Sirih

Para pengunjung sekaten biasanya mengunyah sirih yaitu mulai pada saat gamelan sekaten dibunyikan. Ini dipercayai dengan mengunyah sirih kita dapat awet muda.

4. Telur amal / telur asin

Telur amal / asin biasa dijual diarena stand sekaten, disini dipercaya oleh masyarakat kalau membeli telur asin maka kita memberi amak pada pembeli, juga segala amal kebaikan kita diterima oleh Tuhan.