Perkembangan Musik Iringan Tayub di Desa Kunden Kabupaten Grobogan Jawa Tengah

Akhir-akhir ini karawitan mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dan sekarang sudah banyak bermunculan kelompok-kelompok  karawitan baik di desa maupun di perkotaan, baik kelompok karawitan putra pada umumnya maupun kelompok karawitan putri. Suatu contoh misalnya, dalam satu Kelurahan, sebut saja Desa Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan terdapat Tiga Kelompok Karawitan Putri yang masih eksis, hal ini menandakan bahwa masyarakat desa Kunden sedikit banyak masih gemar akan kesenian Karawitan.

Dilihat dari letak geografis daerah Kabupaten Grobogan atau lebih dikenal dengan Purwodadi, kabupaten ini bersebelahan dengan Kabupaten Blora, dan Kabupaten Pati. Dimana sudah dikenal oleh kalangan seniman bahwa daerah atau Kabupaten Blora dan Pati tersebut sangat subur dengan kesenian tayub. Karena masyarakatnya (terutama di pedesan) merupakan masyarakat agraris, jadi hasil pertanian masih menjadi penyangga utama bagi masyarakat setempat. Dari itulah kesenian tayub dapat bertahan subur hingga sekarang karena kesenian tayub berfungsi sebagai sarana upacara spiritual yang dipercaya berkaitan dengan kesuburan dan hasil pertanian bagi masyarakat setempat.

Hubungan karawitan dan masyarakat bisa mempunyai dua arti yaitu pertama sebagai konsumen dan kedua sebagai pelaku seni atau pengrawit. Keduanya mempunyai peran penting terhadap kehidupah atau perkembangan karawitan. Di desa tertentu di daerah Kabupaten Grobogan masih ada mitos bahwa apabila sanak keluarganya ada yang  sakit, maka mereka bernadzar untuk nanggap klenengan atau nanggap tayub dengan maksud agar lekas sembuh dari sakit. Kemudian nanggap tayub itu sendiri baru dilaksanakan apabila orang atau sanak keluarganya sudah sembuh dari sakit. Bagi masyarakat yang mata pencahariannya sebagai petani, apabila sudah tiba masa panen, mereka akan merasa puas atau bangga apabila mereka sudah bisa nanggap tayub (nggantung gong).

Salah satu kelompok karawitan putri yang sering pentas (ditanggap) oleh masyarakat sekitar adalah kelompok karawitan putri Larasati. Kelompok karawitan putri Larasati, sesuai dengan namanya kelompok ini mula-mula beranggotakan perempuan atau wanita (putri) semua, tetapi karena keterbatasan seorang pelatih dan anggotanya yang memegang instrumen Kendhang mengaku kesulitan saat proses latihan, sehingga dengan ikut campur seorang pelatih itu sendiri yang memegang instrumen kandhang.

Seperti halnya kelompok karawitan pada umumnya, mereka mempelajari atau mendalami gendhing-gendhing jawa klasik (gaya Surakarta), dalam pembagiannya gendhing-gendhing untuk keperluan Klenengan, Iringan Tari, dan Pakeliran. Tetapi berbeda dengan kelompok karawitan putri ini, mereka lebih mengutamakan mempelajari gendhing-gendhing tayub, bahkan gendhing klasik (gaya surakarta) pada umumnya mereka anggap sebagai awalan atau selingan saat pentas.

Dilihat dari segi musikal, jelas perbedaannya antara karawitan untuk keperluan iringan tayub dengan keperluan karawitan mandiri, iringan tari, dan keperluan sebagai iringan pakeliran. Dalam keperluan sebagai iringan tayub gendhing-gendhingnya labih cenderung bersifat gayeng, gumyak, dan rame-rame, hal ini didukung dengan adanya jalinan interaksi antara instrumen kendhang dengan penambahan instrumen atau memasukan instrumen cymbal dan bass drum untuk menambah atau membuat pementasan lebih meriah.

Seiring perubahan budaya yang sedemikian cepat yang dipengaruh oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Banyak acara-acara televisi, radio, dan kaset yang berpengaruh terhadap masyarakat, masyarakat terbiasa melihat, mendengarkan lagu-lagu campursari dan dangdut. Sehingga bagi seniman tayub dengan tuntutan masyarakat yang sedemikian rupa termotivasi untuk mengadakan perubahan tampilan atau kemasan dalam pementasan keseniannya untuk dapat hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakatyna.  Dengan perubahan dan perkembangannya oleh masyarakat khususnya masyarakat Grobogan cenderung dapat menerima kesenian tersebut dengan baik, sehingga banyak masyarakat sangat antusias. Apabila setiap ada orang yang mempunyai kerja dan terdapat sebuah pertunjukan dapat dikatakan rata-rata mereka nanggap campursari. Selain itu musik melayu (dangdut) juga kembali merakyat, artinya setelah perkembangan kesenian Campursari, musik melayu mulai diminati masyarakat setempat.

Melihat fenomena diatas maka tidak menutup kamungkinan jika kelompok-kelompok karawitan di Grobogan seperti kelompok karawitan putri Larasati, secara tidak langsung dituntut dan terbawa arus mengikuti keinginan (kemauan) dan kesenangan masyarakat Grobogan. sehingga mereka juga mensiasati dengan memasukan atau manambahkan penyanyi atau biduan, kendhang jaipong, alat-alat elektronik (Organ dan bass) kedalam iringan tayub.

Dengan memasukan alat baru tersebut, ternyata berpengaruh baik bagi kesenian tayub itu sendiri. Karena masyarakat setempat dapat menerima dengan adanya instrumen non gamelan tersebut sehingga jumlah pementasan bagi kelompok-kelompok karawitan tersebut meningkat. Dalam kenyataanya masyarakat yang nanggap kelompok karawitan tersebut disambut dengan baik oleh masyarakat setempat, tidak sedikit penonton yang berpartisipasi nyawer atau meminta lagu dangdut, campursari, dan gendhing-gendhing tayub. Hal ini terlihat bahwa dalam pertunjukan atau pementasannya, secara tidak langsung penonton juga ikut terlibat didalamnya karena penonton dapat berperan sebagai penikmat (pengibing) dengan senang hati njoget. Selain berpengaruh baik ternyata juga terdapat pengaruh yang kurang baik bagi kehidupan kesenian tayub. Pada saat pementasan mula-mula sajian gendhing-gendhing khas tayuban. Tetapi bagian ini hanya sejenak, artinya disajikan pada bagian awal pementasan saja, kemudian disambung dengan lagu-lagu dangdut dan campursari. Hal tersebut berdampak kurang baik bagi kesenian tayub itu sendiri baik dari tata urutan tayub maupun dari segi durasi waktu pementasan, dikarenakan durasi untuk tayub sendiri lebih sedikit dibandingkan dengan lagu-lagu campursari dan dangdut. Pada kenyatannya waktu pementasan tidak terkontrol sehingga pementsan berakhir melebihi durasi pementasan tayub pada umumnya.

 

 

Daftar Pustaka

Waridi. “Menimbang Pendekatan Pengkajian dan Penciptaan Musik Nusantara”. Surakarta: STSI press, 2005.

Soedarsono, R.M. “Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata”. Bandung: MSPI, 1999.

Widyastutieningrum, Sri R. “Seni Pertunjukan Tayub Di Blora Jawa Tengah”, makalah Seminar Aplikasi MPK di bidang Seni ISI Surakarta, 2007.

Trustho. “Sikap Pengrawit Yogyakarta Terhadap Karawitan Gaya Surakarta”, makalah Seminar Jurusan Karawitan Di ISI Surakarta, 2007.

Jadmiko Edi Basuki. “ Kehidupan Karawitan Di Jawa Timur Saat Ini”, makalah Seminar Jurusan Karawitan Di ISI Surakarta, 2007.

Wawancara Waridjan. Tokoh masyarakat Desa Kunden, Hari Senin, Tanggal 15 Oktober 2007

Wawancara. Sudadi dan Ngadiyono. Pelatih karawitan putri Larasati, Hari Kamis, Tanggal 11 Oktober 2007.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.